Sabtu, 10 Oktober 2026

Dulu, lahir mu adalah dunianya, Sekarang?

Dulu, ketika kau lahir, dunia ibu mengecil menjadi satu nama: namamu. Seolah-olah semesta tak lagi memiliki matahari selain matamu, tak ada doa selain keselamatanmu, dan tak ada rumah selain tempat kau bertumbuh di dalam peluknya.

Ibu rela menjadi akar yang tak terlihat, agar kau tumbuh menjadi pohon yang tinggi. Ia menadah hujan, menahan badai, bahkan menyembunyikan lukanya sendiri agar daun-daunmu tetap hijau. Baginya, melihatmu mekar adalah cara paling sederhana untuk merasa bahwa hidupnya telah menjadi bunga.

Namun, waktu adalah sungai yang tak pernah mengalir pulang.

Kau tumbuh, mulai mengenal jalan-jalan yang jauh, mengejar langit yang lebih luas, dan membangun dunia yang perlahan tak lagi berpusat pada dirinya. Itu bukan kesalahan. Barangkali memang begitulah cara kehidupan mengajarkan manusia untuk pergi dan menjadi dirinya sendiri.

Hanya saja, pernahkah kau membayangkan ketika langkah ibu mulai pendek, ketika tangannya tak lagi cukup kuat untuk menggenggam, ketika ingatannya mulai kehilangan beberapa nama, dan suaranya tak lagi mampu memanggilmu sejelas dahulu?

Sementara itu, kau mungkin sedang begitu sibuk mengejar matahari, sampai lupa bahwa ada seseorang yang dahulu rela membakar dirinya sendiri agar jalanmu tak gelap.

Kelak, ketika senja menetap di rambutnya dan tubuhnya tak lagi sekuat dulu, jangan biarkan ibu hanya menjadi rumah tua yang sesekali kau kunjungi ketika sempat. Sebab, sebelum kau mengenal dunia, dialah duniamu. Sebelum kau tahu cara berjalan, dialah kaki yang membawamu. Dan sebelum kau pandai menyebut namamu sendiri, namamulah yang paling sering ia bisikkan dalam doa.

Jangan menunggu ibu menjadi kenangan untuk menyadari betapa luas cintanya. Jangan menunggu suaranya benar-benar sunyi untuk merindukan panggilannya.

Sebab, waktu mungkin masih memberimu kesempatan untuk menaklukkan dunia, tetapi tidak ada yang bisa menjanjikan berapa lama lagi ibu akan tinggal di dalamnya.

Jika dahulu seluruh dunia ibu adalah dirimu, semoga kelak, ketika dunianya mulai meredup, ia masih menemukan tempat untuk pulang di dalam kesibukanmu.

Sebab, pada akhirnya, ibu tidak selalu membutuhkan seluruh waktumu. Barangkali ia hanya ingin diyakinkan bahwa setelah bertahun-tahun menjadikanmu pusat semestanya, ia tidak akan menjadi seseorang yang terlupakan ketika semestamu mulai membesar.

*Sebuah Prosa pengingat saat sedihku tidak bisa banyak memberi ibu, saat ia mengeluh badan nya sakit 😭

Minggu, 13 Oktober 2024

PERNAH

Apa yang bisa dilakukan oleh si hari Minggu selain tertawa di bawah langit yang teduh ia bersumpah akan banyak hati bersimpuh memuji dan mengharapnya

Apa yang bisa dilakukan oleh ingatan selain memutar-mutar film lawas kehidupan si pemiliknya 

Apa yang bisa dilakukan oleh ranting pohon selain mengayun-ayun diri menikmati perlakuan angin yang berhembus 

Apa yang bisa dilakukan oleh aku yang masih, terhadap kamu yang pernah, hidup. 

Selain mengenangmu sebagai orang lain yang mengenalkan apa arti rasa dalam jiwa. 
Orang lain yang menghantarkan gelombang hangat ke dalam hati saat pandangan bertemu.

Betapa kita pernah, dan kamu bertanah.

*Tulisan ini dibuat untuk tantangan ibadah puisi tentang PERNAH #bukuakik 12 Oktober 2024

Senin, 07 Oktober 2024

MENEPI

Hari ini seperti biasa aku merindukan mu, upayaku menyembuhkan nya adalah dengan mengunjungi salah satu rumah mu. 
Sedang rumah mu yang lain, di mana aku pernah tidur, bercerita, bermain, duduk memandangmu, menangis, menulis puisi utau sekedar catatan untuk mu,  sudah kau tutup pintu dan jendela nya. 

Untuk itu, aku sudah menepi dari kebiasaan itu. Semoga kau tidak merasa kehilangan, seperti di film film. 
Apa? Kau tanya rumah yang mana? Hati mu sayang. 😊
Ah rindu nya memanggil sayang. Sampai sampai sekarang semua orang kadang ku panggil sayang.

*Puisi ini dibuat untuk menerima tantangan menunaikan ibadah puisi #akikberpuisi 09 September 2024
 

BALIK

Detik berdetak, Menit berminus
Jarum jam terus berputar seperti tak pernah berkesah.

Tapi wajah sejarah di dada dan kepalaku sama lelah nya. 
Bagai sehabis kerja mengelola sejuta harapan dan kenyataan, mencatat bertumpuk cita cita dan realita.

Siang hari, aku tengadah pada langit yang biru, secerah musim panas sambil bertanya tanya.
Malam hari, aku juga terkesima pada langit yang hitam, manis dengan bulan dan bintang nya juga sambil bertanya tanya.

Waktu memang sangat tidak bisa balik kembali, tapi momen momen indah, baik dan bahagia, bukan kah kita bisa saja mengulangnya?? 

*Puisi ini dibuat untuk menerima tantangan menunaikan ibadah puisi #akikberpuisi 14 September 2025

CEMAS

Seperti alarm beberapa kali engkau memberitahu perihal usiamu yang senja. 
Hatimu cemas tentang aku yang terus tersenyum meski sendirian. 

Kau ingin aku menjadi sesuatu yang tinggal di dalam rumah bernama sakinah mawaddah warohmah.

Alih-alih begitu aku masih berada dalam mimpi buruk yang sekuat-kuatnya ingin membuka mata lalu melihat bahwa dunia sesungguhnya begitu terang.

Sepertimu, aku pun dalam kecemasan tertimpa banyaknya harap dan tanya tentang apa iya dingin itu api, panas itu es, bahagia itu luka, senyum itu marah dan terakhir apakah selamanya penerimaan itu surga??

Ah ya.. aku pikir tidak ada yang lebih hebat daripada cinta di antara kita yang saling mencemaskan. 

*Puisi ini dibuat untuk menerima tantangan menunaikan ibadah puisi #akikberpuisi 05 Oktober 2024

Kamis, 21 September 2023

Tulisan kecil tentang literasi

Saya jujur, adalah orang yg tiap kali ditanya apa hobinya, saya suka membaca dan menulis. Dari sejak kecil. Bukan bermaksud sok oke dan sok keren, karna pun kesukaan saya terhadap literasi belum berefek banyak untuk diri apalagi orang lain, jadi itu indikator bahwa saya bukan keren. 


Kembali pada fokus kalimat pertama saya, tentang membaca dan menulis, atau kita bisa sebut juga literasi. Menurut data UNESCO di 2016 Indonesia urutan negara ke 60 dari 61 yang rendah minat literasinya. 


Baik, kalau suka membaca dan menulis adalah bagian dari minat literasi, maka menjadi PR adalah bagaimana menjadikan diri suka membaca dan menulis?


Menurut saya, saya suka literasi karna bapak saya adalah orang yang suka literasi. Beliau hobi nonton berita, ya hobi juga nonton tinju, hobi juga nyanyi eheheh. Dulu, kecilnya saya oleh oleh darinya pulang kerja adalah koran, koran dan koran. Sesekali naik tingkat ke bacaan yang berwarna dan kertasnya licin seperti majalah ASRI namanya. Pernah juga, pulang kerja oleh olehnya kaset, kaset dangdut Meggy Z dan lmam S Arifin untuk hiburan mamak, kaset Joshua, Trio Kwek Kwek, Cindy Cenora untuk kami anak anak nya.


Kesukaan orang tua saya berefek ke saya, saya suka hal hal itu. 


Lalu saya di sekolah kan, di sekolah wawasan pun berkembang. 

Waktu SD saya dipercayakan guru untuk ikut lomba Sinopsis buku, mungkin menurut ibu guru saat itu Lina bagus tulisannya, dan cepat menangkap bacaan. Walaupun pada akhirnya kalah. Ahaha.

Tamat SD saya dimasukkan ke Pondok Pesantren. Bertambah lah pengetahuan tentang mana yang lebih baik dan tidak. Jadi paham bahwa literasi adalah Misi yang diterima nabi Muhammad pertama kali. Melalui wahyu Allah dalam Surat Al A'laq 1-5.

Jadi paham juga, kenapa kata Iqro' itu tidak dilanjutkan dengan kata apa yang harus di Iqro'. 

Ternyata, tujuannya adalah membaca itu tidak melulu sebuah bacaan yang tersurat, tapi segala hal bahkan yang tersirat. Artinya baca fikiran kamu juga dianjurkan eheheh.

Well, Inti dari semua yang hendak saya sampaikan adalah, salah satu cara menumbuhkan minat baca dan tulis adalah dengan menjadi Role Model yang suka literasi agar generasi selanjutnya juga suka literasi. 

Zaman berkembang, barangkali arti literasi pun berkembang, tidak sekedar membaca dan menulis. Tapi juga paham teknologi dan digital. 

Pertinyiin nyi, apakah dengan orang tua zaman now memberikan gadget kepada anaknya bisa disebut sebagai Role model literasi? 

Tentu jawaban nya Tidak. Alih alih menjadikan anak suka literasi, justru anak menjadi korban dari keadiksian gadget kalau tidak diawasi, kalau orang tua juga tidak paham gadget, kalau orang tua dari awal tidak membuat kesepakatan dengan anaknya tentang hadiah gadget tersebut.

Wallahu a'lam bishshawwab.


Sabtu, 15 Juli 2023

Air Mata

Ada yang hangat saat aku mengingat ingat 
Perjalanan panjang puan bernama aku
Semakin deras saat Dia begitu welas asih penuh Rahmat membalas
Bahkan pada hil mustahal si puan laku

Ada yg pecah saat puan bersimpuh menceritakan tentang rindu nya pada,
Makhluk serupa puan bernama annasu yang berlalu
Semakin bergejolak membikin sesak saat Dia begitu lembut membelai jiwa puan seolah membisik
"Aku rindu hambaKu, puan puan yang sujud mengadu" 

Ada lah ia, air mata. 
Nb. Puisi mini ini tercipta atas tantangan menunaikan ibadah puisi @bukuakik pada 15 Juli 2023. Enjoy ☺️

Dulu, lahir mu adalah dunianya, Sekarang?

Dulu, ketika kau lahir, dunia ibu mengecil menjadi satu nama: namamu. Seolah-olah semesta tak lagi memiliki matahari selain matamu, tak ada ...