Dulu, ketika kau lahir, dunia ibu mengecil menjadi satu nama: namamu. Seolah-olah semesta tak lagi memiliki matahari selain matamu, tak ada doa selain keselamatanmu, dan tak ada rumah selain tempat kau bertumbuh di dalam peluknya.
Ibu rela menjadi akar yang tak terlihat, agar kau tumbuh menjadi pohon yang tinggi. Ia menadah hujan, menahan badai, bahkan menyembunyikan lukanya sendiri agar daun-daunmu tetap hijau. Baginya, melihatmu mekar adalah cara paling sederhana untuk merasa bahwa hidupnya telah menjadi bunga.
Namun, waktu adalah sungai yang tak pernah mengalir pulang.
Kau tumbuh, mulai mengenal jalan-jalan yang jauh, mengejar langit yang lebih luas, dan membangun dunia yang perlahan tak lagi berpusat pada dirinya. Itu bukan kesalahan. Barangkali memang begitulah cara kehidupan mengajarkan manusia untuk pergi dan menjadi dirinya sendiri.
Hanya saja, pernahkah kau membayangkan ketika langkah ibu mulai pendek, ketika tangannya tak lagi cukup kuat untuk menggenggam, ketika ingatannya mulai kehilangan beberapa nama, dan suaranya tak lagi mampu memanggilmu sejelas dahulu?
Sementara itu, kau mungkin sedang begitu sibuk mengejar matahari, sampai lupa bahwa ada seseorang yang dahulu rela membakar dirinya sendiri agar jalanmu tak gelap.
Kelak, ketika senja menetap di rambutnya dan tubuhnya tak lagi sekuat dulu, jangan biarkan ibu hanya menjadi rumah tua yang sesekali kau kunjungi ketika sempat. Sebab, sebelum kau mengenal dunia, dialah duniamu. Sebelum kau tahu cara berjalan, dialah kaki yang membawamu. Dan sebelum kau pandai menyebut namamu sendiri, namamulah yang paling sering ia bisikkan dalam doa.
Jangan menunggu ibu menjadi kenangan untuk menyadari betapa luas cintanya. Jangan menunggu suaranya benar-benar sunyi untuk merindukan panggilannya.
Sebab, waktu mungkin masih memberimu kesempatan untuk menaklukkan dunia, tetapi tidak ada yang bisa menjanjikan berapa lama lagi ibu akan tinggal di dalamnya.
Jika dahulu seluruh dunia ibu adalah dirimu, semoga kelak, ketika dunianya mulai meredup, ia masih menemukan tempat untuk pulang di dalam kesibukanmu.
Sebab, pada akhirnya, ibu tidak selalu membutuhkan seluruh waktumu. Barangkali ia hanya ingin diyakinkan bahwa setelah bertahun-tahun menjadikanmu pusat semestanya, ia tidak akan menjadi seseorang yang terlupakan ketika semestamu mulai membesar.
*Sebuah Prosa pengingat saat sedihku tidak bisa banyak memberi ibu, saat ia mengeluh badan nya sakit ðŸ˜