Jumat, 12 Februari 2021

Tentang rindu, dan yang tak lagi sama.

                                          


Aku menghirup wangi puisi, teriak elang
Begitu cepat ia berlalu melewati lintasan
Udara yang terjal oleh gumpal awan
Setelah jauk meliuk liuk tersesat di pematang
Berpuluh orang-orangan yang mengusir Pipit dan kaleng kaleng berisik

Aku menghirup wangi puisi, sayup angin
Yang risau menentukan kata bertujuan
Menjadi kincir, memutar mutar diri dan keputusan dan kegaduhan dan manusia

Aku menghirup wangi puisi, bisik puisi
Diantara gigil dan kerinduan dan demam, meracau dimanakah kiranya titik temu,
tempat peradaban cerita tawa dan peluk kita.
Tapi hangat mentari tak lagi sama. 🍂


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dulu, lahir mu adalah dunianya, Sekarang?

Dulu, ketika kau lahir, dunia ibu mengecil menjadi satu nama: namamu. Seolah-olah semesta tak lagi memiliki matahari selain matamu, tak ada ...