Hati dan otak itu seperti suami istri. Sama sama saling meninggalkan jika satu sama lain pergi sendirian.
Kadang kita meyakinkan diri bahwa menjadi pegiat otak adalah sebenar benar nya benar padahal saat itu pula perasaan kita meronta, berdarah darah seakan akan kau kurus dan kucel dimakan peperangan penghuni dada dan kepalamu.
Atau kita terlalu memanjakan perasaan perasaan hingga kita lupa ada logika yang semestinya kita genggam. Do we remember? Sometimes following the heart means losing the mind.
Atau kita terlalu memanjakan perasaan perasaan hingga kita lupa ada logika yang semestinya kita genggam. Do we remember? Sometimes following the heart means losing the mind.
Semoga kita dapat mendamaikan kembali suami istri yang sedang belajar egois itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar