Disini bulan bersinar terus menerus tiap kali kau puk-puk aku sepenuh kasih.
Pada tiap sentuhanmu kau titip asa baik masa depan.
Tak lupa kau tuntun aku baca bismika dulu katamu.
Dalam samar tidur ku dengar kau masih setia bercerita melalui lagu kanak kanak kesukaanmu dahulu.
(Tanah air ku tidak ku lupakan kan terkenang selama hidupku..)
Kau pijat juga kaki kaki lelah seharian berlari main-main.
Ayah bahkan lelahmu memikul bertandan sawit kau pun lupa.
Kau masih ingin ajarku cinta pada negeri tempat kelahiran.
Ah ayah, ku kenang juga diriku gadis enam tahun berambut mangkuk yang mendengkur halus.
Seperti bercerita akulah anak gadis ayah paling bahagia.
Terima kasih ayah menjadi lullaby terbaik ku.
Nb: Tulisan ini diikutsertakan dalam event menulis #ProyekMPI_April bersama Penerbit Andita Mediatama

Tidak ada komentar:
Posting Komentar